Jumat, 18 Oktober 2019

Nak

Nak, jika kau ada nanti di hidupku
Aku tak tau harus bagaimana... apa aku harus mengajarimu seperti orang tua dulu, atau kau harus belajar sendiri seperti binatan buas.

Yang aku tau jikalau nanti kau lahir, aku akan mengajarkanmu mengaji, walaupun entah jadi apa engkau besar, setidaknya aku harus melakukan kewajibanku mengenalkan Tuhanku padamu, aku ingin kamu jadi anak yang baik, dan cerdik, entah kau akan menjadi nakal sepertiku, atau tidak.

Nak, jika nanti kau lahir, kuharap kau mengerti aku ini apa dan siapa, semoga kamu jadi orang yang bijak sana dan dewasa, walau tanpa cita - cita, tapi setidaknya kamu punya cinta, melakukan sesuatu dengan tulus, dan jangan ikuti aku yang tak bisa bertutur kata halus.

Nak...
Aku ada contoh burukmu, dan tentu aku tak mau engkau seperti aku, kau harus lebih dari aku, enggaku harus merdeka dan lebih pintar dengan cepat, aku harap aku tak mengekangmu, aku harap kau jadi apa yang mau, tapi tak mengesampingkan sisi manusiawi.

Nak...
Jika aku berbicara agama denganmu, aku sendiri sangat bodoh dalam hal ini, yang kutau kau harus menjadi baik, kapan pun, dimana pun, dan dalam situasi apa pun. sulit tapi itu indah.

Nak... kuharap kau tidak banyak mengeluh tapi lebih banyak memperbaiki diri, tak seperti aku yang senang meratapi

Nak...
Share:

Bagaimana Jika

Bagaimana jika, dulu ras hitam adalah penguasa dunia, dengan keganasannya, dan tampang sangarnya
Bagaimana jika, dulu ras putih hanya sebagai budak dan dianggap makhluk lemah
Bagaimana jika suatu hari ras putih lari dan memperpintar diri
Bagaimana jika saat ini hanya balas dendam masala lalu
Bagaimana jika diantara ras diantara kedua ras menjadi penengah lalu menjadi menjajah
Bagaimana jika itu benar?
Share:

Rabu, 16 Oktober 2019

Jl. Gatot Subroto

Disana sosok yang menari asik diatas mimbar...
Sisi negatifku berkata "untuk apa makhluk itu menggila untuk benda? sedang dia sendiri dalam pengaruh ganja?"

Tak ada yang menghiraukan perkataanku, beberapa hanya melanjutkan dan menyoraki dengan wajah hingar bingar

Sedikit sadar aku pun itu menari dengan ritme ritme yang tak berarti, beberapa melihat dan mengelilingiku " inilah monyet yang baru"kata mereka, aku tak mengiraukan masih berjingkrak jingkrak hilang nada...

Imajinasiku berlari dengan tarian di layar kaca artis Hollywood baru dengan lagunya yang bahkan aku tak mengerti pembendaharaan kata menjadi irama, sebegitukan para manusia tak berwarna membuat suatu kalimat irama?

Dalam lagi dalam dan sesak bijih besi masuk ke paru paru, aku masih sadar dan tak berjalan selangkahpun dari tempat awal ini, artis Hollywood itu juga masih asik sendiri menjadi tua dan bersemangat

Aku dengki sendiri, aku lahir dan keberuntunganku tak jauh dari seorang loper koran yang bahagia di jam 3 pagi, secangkir kopi hitam dan rokok Djinggo, aku mendatanginya bercengkrama seadanya dan tertawa bukan pada waktunya.

"Kau kenapa nak?" Katanya menghawatirkanku
Aku diam... Adzan memecah kebuntuan pikiranku mengalih dan lari kepada Tuhan
"Sebentar" Ucapku... lalu berdiri berjalan ke Mushola belakan bank CIMB tempat para penjaga mencuri waktunya.

Irama dengkur, air keran ,dan takbir bersahut sahutan.
Kututup...
Pergi dalam hening tanpa basa basi, kopi tadi sudah dingin.
Kucuri Djinggo sebatang dan berlalu

Dan disini aku membaca artikel ini dan lupa itu pernah terjadi padaku, apa hanya pura pura lupa?
Share:

Aiiiissssshh.....

Dan semua menjadi oleh siapa, dengan siapa, dan tentang siapa

Masih sering terngiang ngiang beberapa orang yang menginspirasiku, yang dia bertkata jangan suka mengutip kata orang lain, tapi disisi lain saat aku mengingatnya aku mengutip kata katanya....

Aku sebagai orang yang egois setuju dan berpendapat bahwa kata kata bijak tak berpengaruh besar kepada orang yang keras kepala, dan disisi lain petuah itu datang dari agama, yang mau tidak mau biasa di benarkan tanpa kompromi.

Orang tua dulu selalu punya prinsip apa yang ada dalam agama adalah benar, aku pun kadang berfikir demikian, tapi aku bukan orang yang bisa secara gamblang membenarkan suatu pernyataan dan mengutip kata kitab saat berdiskusi.

Kadang aku berfikir kitab adalah kumpulan pengalaman dari orang dahulu, tapi orang tua bilang kita adalah pedoman hidup dalam arti itu adalah jalan menjadi manusia yang orisinil dan jalan yang baik menuju Tuhannya.

Tapi disisi lain jalan yang lurus itu sangat membosankan, hanya mengikuti peraturan tanpa membangkang, dan tersesat, bahkan tak ada waktu untuk menertawakan kebodohan kebodohan yang dilakukan, apa aku memang harus benar di hari tua saja? Sedang muda hura hura bergelimpangan dunia jungkir balik dan tersungkur. dan ujungnya kembali lagi ke jalan sesuai pedoman.

Tuhan yang menciptakan dunia penuh teka tki, dan dia ciptakan manusia menjadi makhlus yang tak tau diri, sehingga mencari dirinya sendiri dan coba sana sini.

ayyyayaaaay, otak ku panas memikrkan keTuhanan sedang diri sendiri saja aku tak tau seperti apa.
Share:

Senin, 14 Oktober 2019

Minggu Pagi

Ayah tak pernah bilang hidup mudah nak
Ayah tak pernah hidangkan kamu nasi dengan mudah

Ayah juga sedikit berkata dan banyak bekerja

Ku keluhkan terus kau pulang di hari minggu
Hanya sebentar bertemu lalu tidur melulu

Sedikit ceritamu menggema
Tindakanmu bersuara tanpa nada
Hanya gerak dan tindak
Sewajarnya aku tak mengerti
Sewajarnya aku memaki

Pada diri ini yang tak tau diri
Pada kamu yang berbicara tanpa bahasa
Share:

Intisari

Dalam tak sadar aku menjadi tak ragu
Dalam tak sadar juga dengan nikmat kamu ceramahi aku

Dalam tak sadar diam diam kudengar
Dalam tak sadar kau ceritakan lembar hitam

Sejenak kita terdiam
Saling tatap dan menertawakan

Hanya gelas plastik wadah kita
Debu, malam, dan riuh malam tak kita pedulikan

Indraku sudah tak meraba
Bicaraku juga tak tertata
Mau pulang malu rasanya
Sedang kamu masih asik berceramah disana
Share:

Aku Harus Apa

Aku harus apa?
Sedang aku sendiri tercambuk
Sedang aku sendiri ingin mengamuk

Aku harus apa?
Sedang aku sendiri terpenjara
Sedang aku sendiri menderita

Sedang kau datang dengan keluh kesahmu
Sedang kau datang dan menyalahkanku

Aku harus apa?
Sedang kita 2 mata pisau yang tumpul
Untuk menghunus ragu dalam diri juga tak mampu

Kita harus apa?
Share: