Sabtu, 08 Juni 2019

Handphone dan Pioritas Saat Berkumpul

  Telepon genggam atau Handphone sekarang bukan hal yang aneh lagi untuk dijadikan media komunikasi di zaman sekarang, media komunikasi berkembang sangat cepat dari awalnya dengan isyarat, lalu muncul bahasa, lalu disitu mulai ada diskusi, surat menyurat, dan hingga sekarang berkirim kabar bukanlah hal yang sulit, hanya dengan benda kecil di tangan kita sudah bisa bersenda gurau bahkan dengan orang yang tak dikenal sekali.
  Tapi terkadang handphone membuat manusia menjadi apatis dan malas untuk mencari informasi, semua seakan disuguhkan, segi kreatifitas menjadi berkurang, walaupun tidak bisa semua di sama ratakan, sifat candu dan bingung saat tak ada handphone bisa menjadi masalah serius di hari depan entah dalam penyakit fisik maupun mental, handphone yang sekarang menjadi konsumsi masyarakat membuat sifat apatis dan acuh padi lingkungan sekitar, hal itu tak bisa di pungkiri dan jelas terlihat terutama di kota metropolitan, sungguh hal yang disayangkan.
  Dibalik itu semua tentu ada segi positif dan negatif, bahkan tak sedikit handphone bisa menjadi sarana untuk mencari ilmu bahkan uang, diharapkan sifat bijak dan etika menggunakan smartphone atau handphone harus diajarkan sejak dini kepada generasi mendatang bahkan jika perlu di contohkan oleh kita generasi awal yang pernah mengalami fungsi dari handphone sesungguhnya.

Thahir ...
Share:

Selasa, 09 April 2019

Curhat #1

09/04/19

  Aku akan mengeluh disini, yup sudah makin habis saja sisa hidupku di Dunia ini, mungkin umurku masih tergolong muda untuk mengatakan ini, sedang fisiku juga masih sehat sehat saja, dan masih banyak juga yang ingin aku lakukan sebenarnya. Tapi jika berbicara kematian pun aku sangat takut, entah dari segi agama ataupun beberapa hal yang belum aku lakukan di Dunia ini.

  Jika diperhatikan aku sekarang sudah hidup di akhir zaman, aku pun berperan sebagai penipu ulung pada diriku sendiri, mungkin beberapa kata yang meninggi agar terlihat terpandang, pada akhirnya sia - sia juga karna memang taka ada guna kupikir. Tapi apa daya sudah terucap dari pada malu mungkin pikirku.

  Sedikit -  sedikit aku berniat untuk berubah menjadi arah yang lebih baik, bisa mengontrol diriku sepenuhnya, tak terbawa emosi, apa lagi nafsu, kadang aku suka menghukum diriku dengan hal hal konyol, aku juga sulit bersungguh sungguh, menjadi pemalas dan bangga, itu sangat konyol aku rasa, tapi terjadi begitu saja, beberapa kebiasan buruk pun masih aku lakukan saat di SMP, dan aku mengakuinya, mudah sekali melakukan hal bodoh seperti itu.Mood ku juga mudah sekali berubah, ya walaupun beberapa hal aku menjadi sedikit aku dewasa, yang membuat aku sedikit mudah bergaul dengan beberapa orang karna biasa banyak baca yang tidak penting. aku masih berfikir aku akan menjadi apa nanti, aku sendiri berfikir enaknya menjadi kaya dan berfoya foya kadang kadang, kadang juga menjadi sangat peduli, ay ay ay di umur sekarang ternyata aku masih sangat labil.

  Ya sekarang sudah memasuki final skripsiku dan aku masih belum bisa apa apa dalan IT aku masih jauh untuk mengerti dan aku hanya punya angan - angan kosong dan pandai berbicara tinggi. kadang aku juga mudah bosan bahkan saat seperti ini aku berfikir agar cepat instan menyelesaikan tulisan ini, bukan berniat agar tulisan ini mudah dibaca oleh para tamu. Rasa frustasi berfikir siapa pula yang datang ke Blog ku ini. Huuuh mungkin terlalu panjang lebar ya kan? aku sampai bingung mau menuliskan apa lagi, sedangkan di otaku masih menggerutu, rasanya ingin menangis sejenak di pangguan seseorang entah siapa tapi aku sungguh malu. Aku juga tak mau orang lain terbebani dengan semua perasaanku toh jika kalian membaca ini biarkan saja, aku juga mungkin akan bersikap tidak peduli, menganggap tulisan ini tak pernah di posting ha ha ha

  Jalannya masih panjang aku hanya diam di peistirahatan sejenak. Mau jadi apa? entah, aku sekarang seperti ingin sendiri tapi diperhatikan, atau bagaimana, ini semua kacau balau, sial.
Share:

Kamis, 20 Desember 2018

Mengeluh

Tuhan...
Aku ingin mengeluh
Kuharap keluh kesah ku bisa membangkitkan aku
Yang terpuruk dalam ruang mimpi
Dan tak terbangun

Aku tau tak pantas memang aku mengeluh
Tapi aku perlu mengeluh
Entah berapa kali
Asal jangan sering kali

Tuhan...
Aku ingin mengeluh
Rutinitas ku membuat ku jenuh
Kadar senyum ku mulai berkurang

Bahagia yang dibuat buat saja adanya

Aku memaksakan senyum Tuhan

Selalu..

Tapi berbohong tak baik memang
Walaupun itu perlu

Aku sudah banyak berbohong pada diriku sendiri
Janji janji pada diriku sendiri tak tercapai

Kukira akan instan..

Aku lelah Tuhan
Izinkan aku mengeluh

Air mataku tak mau menetes
Hati sudah lelah pedih
Hanya menggerutu biasanya

Entah sampai kapan?
Tapi kali ini aku hanya ingin mengeluh

Izinkan aku Tuhan

Share:

Rabu, 19 Desember 2018

Baliho Pemilu

  Huehehehehe udah masuk pemilu nih, tepatnya di tanggal 17 April 2019, bakal ada penggatian jabatan secara besar besaran.
  Dari rumor yang beredar sih yang diganti bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden saja, tahun 2019 di barengi dengan penggantian anggota DPR juga Wah asyik nih.. hihihi.
  Sebagai warga yang tinggal dan ber-KTP Indonesia, sudah selayaknya mendoakan agar kepemimpinan kedepan bebas dari korupsi dan kong kali kong, dan pastinya bisa mensejahterakan rakyat Indonesia.
  Tapi ada yang sedikit mengganjal di benak saya yaitu baliho pemilu, ya tentu sudah tak asih lagi saat mau pesta demokrasi baliho dan spanduk spanduk bertebaran, dan dengan seenaknya pemerintah mengizinkan itu, tentu dengan bayaran kepada mereka, pastinya.
  Dijalan jalan jadi penuh dengan muka muka orang yang tak dikenal, beserta janji janji mereka, oalah saya pribadi tengganggu akan adanya baliho dan spanduk tersebut, yang biasanya asri, jalanan kini jadi warna warni dengan janji.
  Yup janji entah di tepati, biasanya tidak huehehehe.
  Aku pribadi mungkin dari pada menyebar pamflet yang tak jelas, uangnya mending di sumbangkan, entah itu ke daerah yang ingin dia pimpin, nanti di tempat itu bisalah ditulis nama si calon misalkan.
  Pembuatan taman bermain, nah disitu dibuat papan nama si calon, dengan begitu kan lebih berguna, atau membuat lampu penerang jalan sepanjang pantura, lalu di sematkan foto calon yang sudah menyumbangkan uangnya kesana, kan lebih berguna, dari pada mengotori daerah yang ia pimpin.
 
  Belum jadi pemimpin saja sudah bikin semeraut kota. Ay ay ay.
  Aku pikir itu lebih efektif, dari pada dananya ngalir tak jelas, kalau begitu bisa nabung dunia dan akhirat, bener ngak sih?
  Itu cuman opini ku, toh di negara lain mungkin belum diterapkan, tapi dengan begitu, mereka kan sudah melunasi janji mereka, untuk mengembangkan daerah yang akan mereka pimpin, sejara jelas dan berguna.
  Sekali lagi itu hanya opiniku, toh belum tentu benar juga, tapi bisa di coba hehehehe.
Thahir
19/12/18
Cikarang
Share:

Selasa, 18 Desember 2018

Bendera Saku

  Senja itu mungkin terlihat asing bagi temanku, aku pulang mengantongi bendera kusam di tas ku, sedikit sobek dan berbekas lumpur yang mengering.
  Aku tak terlalu menggubris dia, aku langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan pusaka yang layu dan mengeringkannya.
  Ya.. pagi itu seperti biasanya, seperti robot aku pergi mencari nafkah yang tak kunjung cukup untuk nafsuku, sudah berapa kali UMR naik tetap saja tak sebanding karena harga pokok juga naik, disini seperti dipermainkan oleh pemerintah sendiri, ya tentu namanya juga "Pemerintah" seenaknya saja memerintah juga tak masalah.
  Menggerutu aku pagi pagi mampir ke warung nasi sejenak untuk membeli sarapan, maklum aku tak bisa telat makan, dan di lain sisi memang sudah kebiasaan ku, saat menunggu sarapanku jadi mata ku liar melihat sekitar, mata ku langsung terpaku kain putih merah yang sekilas seperti serbet, aku diam sejenak masih mengira ngira benda apa itu.
  Entahlah tiba tiba aku merunduk dan kaget ternyata sang Saka di pinggir jalan, kusam, berdebu, sedikit bercak oli disana.
  Aku reflek bertanya dengan nada tinggi .
"Siapa yang membuang ini !" Tanyaku geram.
" Ngak tau udah disono dari tadi" sedikit kaget melihat perlakuanku.
  Aku mereda segera ku kibas sedikit lalu ku kantongi di tas ku, membayar dan lekas pergi.
  Diperjalanan aku terus saja memikirkan sang Saka, siapa yang tega melakukan itu, walaupun aku sering mengkritik dan benci dengan pemerintah yang semena mena mengatur bangsa, tetap saja aku kesal.
Sang Saka ditanah dan tak ada yang peduli..
  Itu yang dipikirku pertama kali, bak sampah ia dipinggiran, tega sekali.
  Ada pula di sisi aku berfikir mengapa mereka seapatis ini? Apa itu termasuk tanda kecewa?
  Entahlah..
  Dan pada akhirnya bendera itu tak kukibarkan, tetap dalam saku tasku, kuharap tanda penghargaanku yang bisa aku berikan, lagi pula mungkin memang tak penting sang Saka dihormati di negara sendiri kecuali saat upacara dan di hina.
  Entahlah...
Share:

Hey Nok

8/02/18
9:52

Hey nok
Apa kau dengar jeritku tiap malam
Membutuhkan kamu
Yang selalu berargumen dan takut

Hey nok
Jikalau pengakuanmu dari dulu
Aku akan tetap dalam prinsip
Ya kamu

Aku mungkin membual tentang aku
Agar rendah jauh dibawah kamu
Aku bukan orang yang mudah suka
Lalu lupa dan tinggal dalam duka

Hey nok
Dua kali aku jatuh cinta
Jika boleh keduanya itu kamu
Dan selamanya kamu

Hey nok
Maaf laki laki pembual yang penuh ambisi ini
Yang selalu ingin di pandang rendah
Tapi tak ingin di remehkan

Hey nok
Aku tidak cukup tanggu seperti kamu
Yang pernah menggeluti kelam surga dunia
Sedangkan aku hanya sekali dan gagal
dan aku bersyukur karna itu

Hey nok
Apalah arti codet ku ini
Yang mendekam membiru
Sedangkan terlalu menghargai wanita


Nok
Aku tak peduli tentang kamu dan masa lalu mu
Aku ingin kamu dengan semua keburukanmu
Dengan semua jiwa yang membentuk kamu
Seperti sekarang, seutuhnya
Share:

Jumat, 09 Februari 2018

Kretek dan Kopi

9/02/18.                                                                                                                                             08.12

Kretek dan kopi
Apa mereka saling Cinta?
Hingga tak ada satu terasa hampa
Ataukah hanya suatu biasa?
Biasa gunjing mereka berdua
Ataukah mereka hanya sandiwara?
Agar keduanya jadi primadona
Entahlah
Aku hanya tau
Nikmat jika mereka bersama
Share: