Senja itu mungkin terlihat asing bagi temanku, aku pulang mengantongi bendera kusam di tas ku, sedikit sobek dan berbekas lumpur yang mengering.
Aku tak terlalu menggubris dia, aku langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan pusaka yang layu dan mengeringkannya.
Aku tak terlalu menggubris dia, aku langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan pusaka yang layu dan mengeringkannya.
Ya.. pagi itu seperti biasanya, seperti robot aku pergi mencari nafkah yang tak kunjung cukup untuk nafsuku, sudah berapa kali UMR naik tetap saja tak sebanding karena harga pokok juga naik, disini seperti dipermainkan oleh pemerintah sendiri, ya tentu namanya juga "Pemerintah" seenaknya saja memerintah juga tak masalah.
Menggerutu aku pagi pagi mampir ke warung nasi sejenak untuk membeli sarapan, maklum aku tak bisa telat makan, dan di lain sisi memang sudah kebiasaan ku, saat menunggu sarapanku jadi mata ku liar melihat sekitar, mata ku langsung terpaku kain putih merah yang sekilas seperti serbet, aku diam sejenak masih mengira ngira benda apa itu.
Entahlah tiba tiba aku merunduk dan kaget ternyata sang Saka di pinggir jalan, kusam, berdebu, sedikit bercak oli disana.
Aku reflek bertanya dengan nada tinggi .
Entahlah tiba tiba aku merunduk dan kaget ternyata sang Saka di pinggir jalan, kusam, berdebu, sedikit bercak oli disana.
Aku reflek bertanya dengan nada tinggi .
"Siapa yang membuang ini !" Tanyaku geram.
" Ngak tau udah disono dari tadi" sedikit kaget melihat perlakuanku.
Aku mereda segera ku kibas sedikit lalu ku kantongi di tas ku, membayar dan lekas pergi.
Diperjalanan aku terus saja memikirkan sang Saka, siapa yang tega melakukan itu, walaupun aku sering mengkritik dan benci dengan pemerintah yang semena mena mengatur bangsa, tetap saja aku kesal.
Diperjalanan aku terus saja memikirkan sang Saka, siapa yang tega melakukan itu, walaupun aku sering mengkritik dan benci dengan pemerintah yang semena mena mengatur bangsa, tetap saja aku kesal.
Sang Saka ditanah dan tak ada yang peduli..
Itu yang dipikirku pertama kali, bak sampah ia dipinggiran, tega sekali.
Ada pula di sisi aku berfikir mengapa mereka seapatis ini? Apa itu termasuk tanda kecewa?
Entahlah..
Dan pada akhirnya bendera itu tak kukibarkan, tetap dalam saku tasku, kuharap tanda penghargaanku yang bisa aku berikan, lagi pula mungkin memang tak penting sang Saka dihormati di negara sendiri kecuali saat upacara dan di hina.
Entahlah...


